Minggu, 12 Agustus 2012

SEJARAH MUARA BADAK



SEJARAH MUARA BADAK

Asal Muasal Nama Muara Badak
Mendengar nama Kecamatan Muara Badak, imajinasi orang terutama yang baru pertama kali mendengar dan belum pernah berkunjung mengarah kepada hewan Badak yang bertubuh gempal, berkulit tebal,
bercula dan senang berendam di kubangan. Di sini, menurut imajinasi orang, ada habitat hewan Badak. Paling tidak pernah ada jenis binatang tersebut yang pernah hidup di kecamatan yang kaya sumber daya alam ini.

Imajinasi tersebut memang tidak salah, lantaran banyak kampung, desa, kecamatan atau wilayah diberi nama sesuai dengan ciri khas kampung tersebut. Misalnya, di Kota Samarinda, ada kampung yang diberi nama Kampung Buaya, lantaran di kampung itu ada penangkaran buaya.

Namun manakala menghubungkan nama Kecamatan Muara Badak dengan nama hewan Badak, menurut para tetuha atau tokoh kecamatan itu salah besar. Pemberian nama ‘Badak pada kecamatan (yang dulunya kampung/desa itu) tidak punya hubungan sama sekati dengan nama hewan Badak.

Versi Pertama

Konon, menurut penuturan salah seorang tokoh Muara Badak, H. Abdul Wahab HAR, nama Muara Badak itu muncuat pada awal tahun 1806. Ihwat cerita, ketika itu, leluhur Abdul Wahab HAR yang memperoleh konsesi untuk mendiami wilayah tersebut dari Sultan Kutai, mendapat kunjungan dari kerabat Kesultanan Kutai.

Dalam perjalanan dari Tenggarong, menyisir Sungai Mahakam, rombongan kerabat Kesultanan Kutai itu mengagumi pohon-pohon besar yang berada di tepi sungai.

Saat mendarat, kekaguman itu memuncak manakala menyaksikan melihat pohon Tempura Badak (memiliki tinggi 40 m, mempunyai buah yang butat yang dapat dibuat bubur. Sekarang sudah punah) di muara perkampungan yang dituju.

‘Bada lehh!!!” seru kerabat Sultan Kutai yang memimpin rombongan itu, berseru memuji dan kagum melihat pohon itu. Sontak, rombongan penyambut yang terdiri dari suku pendatang (Bugis) dan suku asli (Kutai) mengartikan bahwa nama kampung mereka yang baru dan belum punya nama itu, Kampung Muara Badak, lantaran seruan kagum kerabat Sultan itu.

Setelah ada kesepakatan yang berawal dari ketidaksengajaan, sejak saat itu nama Muara Badakdipakai untuk perkampungan baru itu. Menyinggung tentang versi lain yang mengatakan bahwa nama Muara Badak itu disebabkan adanya hewan Badak, Abdul Wahab HAR membantahnya.”Sejak kecil hingga sekarang, saya tidak pernah melihat Badak di sini,” ucap tokoh masyarakat yang dilahirkan di Muara Badak, 4 Mei 1947 itu.

Versi Kedua

SEPERTI yang diketahui bahwa kerajaan Kutai Ing Martadipura adalah kerajaan tertua di Indonesia. Dulu, orang tidak mengenal. Kalimantan Timur melainkan Tanah Kutai dan pada tahun 1806 ada seorang bernama Ismail (lsmaila) beserta keluarga dan rombongannya berlayar dari Sulawesi Selatan menuju tanah Kutai dengan menggunakan perahu phinisi.

Mereka mengarungi lautan luas meninggalkan Sulawesi menuju Tanah Kutai karena tidak tahan terhadap perlakuan pemerintah Kerajaan Belanda yang dijalankan dengan sangat kejam serta perlakuan di luar batas kemanusiaan.

Setibanya di Tanah Kutai, dilihatnya hutan tumbuh subur hingga muncullah keinginannya dalam hati akan membuka perkebunan kelapa. Namun sebelum niat lsmaila tersebut terlaksana, is terus berlayar menuju Tenggarong menghadap Sultan Kutai dengan maksud untuk meminta tanah perkebunan di dekat pantai.

Ismaila diterima baik oleh Sultan Kutai. Dengan tekad yang baik disertai niat yang tulus, maka dalam pertemuannya dengan Sultan dibicarakanlah apa keinginannya. Kesimpulannya Sultan mengabulkan keinginan Ismaila. Bahkan dengan kemurahannya Sultan memberikan wilayah untuk dipilih mulai dari wilayah Kutai Lama sampai pantai laut mana saja yang disukai Ismaila dan jika sudah mendapat tempat yang disenangi maka ia diminta untuk melapor pada Sultan.

Setelah menghadap Sultan Kutai, Ismaila kembali menyusuri pantai sambil melihat-lihat keadaan pantai dan hutannya. Satu hari satu malam Ismaila menyusuri pantai dan pada pagi harinya ia melihat sebuah sungai yang sesuai dengan pesan orang-orang tua dahulu. Sungai yang menyusu pada laut sangat bagus ditempati untuk berusaha. Karenanya berlabuhlah Ismailah di muara sungai tersebut.

Hari itu bertepatan hari Senin. Setelah sarapan pagi ia memasuki sungai tersebut sepanjang kurang lebih 2 km. Karena perahunya tidak mampu lagi masuk ke dalam, maka berlabuhlah ia di tempat itu yang selama ini kita kenal Toko Lima.

Ketika itu sekoci diturunkan untuk dipakai masuk ke dalam sungai untuk memeriksa apakah tanahnya dan keadaan sekitarnya cocok atau tidak seperti yang diinginkan. Belum jauh Ismaila dari perahu besarnya, ia melihat buah kayu BADAK dan tidak jauh dari tempat itu tampak pohon-pohonnya dan kebetulan Ismaila melihat sepasang badak yang sedang berlari.

Kurang lebih 6 km dari muara di temukanlah Tanah Tinggi, maka bertahanlah Ismaila di tempat tersebut untuk memeriksa keadaannya. Wilayah itu sangat disukainya. Wilayah tersebut kemudian kita kenal dengan nama Muara Badak.

Nama Muara Badak adalah pemberian dari Ismaila (orang yang pertama membuka wilayah) karena ia menemukan adanya pohon badak dan binatang badak dan sumber lain mengatakan Muara Badak dulu bernama Kuala Badak.

Versi Ketiga

Di samping versi di atas, ada juga versi lainnya. Konon, Muara Badak zaman dahulu masih merupakan hutan belantara dan rawa-rawa yang tak berpenghuni. Sekitar tahun 1825 tiga orang perantau suku Bugis yakni Wa Sennang, Wa Ukku dan Wa Alto beserta sembilan orang Joa (pesuruh) melakukan perjalanan meninggalkan Tanah Ogi (bugis) untuk mencari tempat pemukiman baru dengan tujuan pulau Kalimantan, kepergian mereka dilatarbelakangi oleh konflik politik dan perang antar-kerajaan yang memberikan dampak negatif pada kehidupan masyarakat Sulawesi pada saat itu.

Misalnya seringnya terjadi perampokan, perampasan hak, pembunuhan dan lain sebagainya. Dengan dasar tersebut ketiga orang yang merupakan suku Bugis Bone Sulawesi Selatan yang masih memiliki darah keturunan dengan Raja Bone meninggalkan daerah kelahiran mereka.

Dalam perjalanan panjang tersebut pada suatu hari La Sennang, Wa Ukku dan Wa Alto akhirnya sampai di daerah tujuan sebuah pantai (saat ini Muara Badak).

Karena kelelahan Wa Sennang tertidur. Dalam tidurnya tersebut ia bermimpi memasang beta (perangkap ikan) dan mendapat ikan yang banyak. Pada saat bangun untuk Shatat Subuh ia kemudian mengajak ketiga saudaranya untuk meneruskan perjalanan ke arah muara pantai dan mengatakan bahwa mereka sudah sampai di tempat yang diimpikan.

Lalu kemudian Wa Sennang menyuruh kedua saudaranya Wa Ukku dan Wa Alto untuk mengambilnair ke sungai sambil melihat kondisi di dalamnya. Dari hasil laporan pembantunya Wa Sennang bersama Wa Ukku dan Wa Alto kembali melakukan “survey” di tempat mengambil air tersebut.

Selang beberapa jam, lalu masuklah mereka semua bersama rombongan menggunakan perahu dan sandar/berlabuh pertama (di daerah yang saat ini disebut gang Keramat di Desa Muara Badak Ulu) dan kemudian mereka melihat daerah ini sangat baik dan cocok untuk di jadikan tempat tinggal dimana kondisinya yang masih bersih ikan-ikan di sungainya masih dapat terlihat, dan berdasarkan pengamatan Wa Sennang dengan mengambil cara melihat orang-orang tua terdahulu, sungai Muara Badak bermuara/menyusu ke muara laut di mana matahari terbit atau ke arah timur yang menurut mitos Bugis daerah tersebut sangat baik untuk ditempati dan memiliki masa depan yang cerah.

Maka sejak saat itu mulailah mereka memilih daerah sebelah kiri muara sungai dan kemudian memulai pekerjaan merintis dan membabat hutan yang masih sangat perawan. Dengan kesabaran, ketabahan, keuletan, dan ketekunan akhirnya mereka berhasil membuka tahan pemukiman, selama melakukan kegiatan tersebut mereka hanya makan buah-buahan yang ada di hutan. Termasuk mereka menemukan buah yang disebut dengan “tampara badak” sebagai cikal bakal nama Muara Badak.

Mengetahui daerah yang akan ditempati adalah merupakan wilayah kekuasaan kesultanan Kutai, maka Wa Sennang meminta izin kepada kerabat kerajaan Kutai yang diberikan kekuasaan wilayah, termasuk Muara Badak saat itu oleh sultan Kutai yaitu Adji Biduk, anak pertama dari isteri pertama Adji Muhammad Salehuddin untuk membuka kawasan pemukiman.

Maka kerabat kerabat kerajaan saat itu Adji Biduk bersama rombongan datang mengunjungi tempat yang dimaksud oleh Wa Sennang, karena begitu kagum dengan daerah tersebut secara spontan Adji Biduk berucap dengan bahasa Kutai yang kental “Badak leh…bagus beneh tempat ini yo!”

Dan ia ungkapan tersebut Wa Sennang dan kawan-kawan secara spontan juga mengatakan/menyahuti dengan logat Bugis “lye’ Asenna Muara Badak” dikarenakan mereka sebelumnya lebih dulu mengetahui ada buah Tampara badak yang ada di muara, maka sejak saat itu di sebutlah wilayah ini sebagai Muara Badak.

Hari, minggu, bulan dan tahun berganti, kehidupan warga dan masyarakat di daerah yang pertama dibuka oleh Wa Sennang, Wa Ukku dan Wa Alto semakin berkembang dan penghuninya bertambah, daerah yang tadinya hutan rimba kini berubah menjadi kawasan pemukiman yang ramai dan dipenuhi kebun kelapa hingga ke muara pantai.

Masyarakat penghuninya pun beragam suku, namun lebih dominan suku Kutai dan Bugis saat itu. Walau pun masyarakatnya plural (berbeda suku) namun kerukunan dan kedamaian di wilayah tersebut selalu terjaga hingga turun temurun.

Pustaka – SEJARAH MUARA BADAK
Tim Kreatif Sdr. Fitri

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar